Tinggal di hutan
Oh tumbuh bersama keluarganya di Sungei Tengah - sebuah kampung atau setingkat desa.
Baca Juga:
BPS: Nilai Tukar Petani Lampung Naik 1,48 Persen Ditopang Sektor Hortikultura Juni 2026
Namun, pada 1980-an, kampung-kampung ini dirobohkan, guna membuka jalan bagi kehadiran gedung-gedung pencakar langit yang baru.
Sebagian besar penduduk kampung ditawari rumah baru oleh pemerintah, tetapi Oh tidak mendapatkannya.
Sedangkan saudara laki-lakinya mendapatkan flat pemerintah dan Oh diundang untuk tinggal di sana - tetapi dia akhirnya pindah karena mengaku tidak ingin merepotkan.
Baca Juga:
PLN UP3 Sumedang Survey Infrastruktur Listrik untuk Dukung Pompa Air Pertanian
Jadi, dia kembali ke hutan dekat tempat rumah lamanya dulu dan mulai bermalam di tempat penampungan sementara yang terbuat dari potongan kayu, bambu, dan terpal.
Saat mendekati tempat penampungan, Anda bakal melihat abu kayu di depan pintu yang merupakan bekas perapian yang digunakan Oh untuk memasak.
Tumpukan barang-barangnya berada di tengah-tengah penampungan, dan bagian belakang tendanya digunakan sebagai tempat tidur.