"Hanya harga di kandang yang rendah, tidak tersentuh mata rantai. Di pasar permintaannya tidak kurang tidak naik," kata dia.
Karena itu, dia meminta pemerintah segera turun tangan, menyeimbangkan suplai dan demand, termasuk pasokan anakan ayam (day old chicken/ DOC) live bird hingga parent stock (PS).
Baca Juga:
Gampang Banget! Begini Cara Manfaatkan Kulit Buah untuk Pupuk Alami
"Harga DOC final stock (live bird) itu sekarang naik jadi Rp7.500 - 8.100 dalam sebulan terakhir, dari posisi di Desember 2021 yang berkisar Rp5.500 - 6.500. Katanya ada kelebihan live bird, makanya harga di kandang rendah. Tapi, kok DOC final stock mahal? Tidak sesuai dengan Permendag (Permendag No 7/2020 tentang Harga Acuan Pembelian di Tingkat Petani dan Harga Acuan Penjualan di Tingkat Konsumen," kata Sugeng.
Akibatnya, kata Sugeng, peternak mandiri semakin tertekan.
"Lama-lama peternak mandiri semakin habis, nggak mampu bertahan hidup karena merugi terus. Saat ini saja, jumlah peternak ayam mandiri sudah tinggal puluhan ribu, dulu ada ratusan ribu. Karena itu, pemerintah seharusnya menjalankan Permentan No 32/2017," kata Sugeng. [tum]