Belum diketahui hubungan antara panjang telomer dan risiko penyakit, namun peneliti mengatakan penumpukan sel-sel tua berkontribusi pada perkembangan penyakit terkait usia. Studi terdahulu menunjukkan manfaat berjalan kaki bagi kondisi fisik, mental, dan sosial peserta.
Namun, tim di University of Leicester mengatakan temuan ini adalah pertama kalinya peneliti membandingkan kecepatan berjalan dengan data genetik terkait umur panjang.
Baca Juga:
Studi Ungkapkan Duduk Lebih Dari 10 Jam Sehari, Tingkatkan Risiko Demensia
"Studi sebelumnya yang membahas hubungan antara kecepatan berjalan, aktivitas fisik, dan panjang telomer dibatasi oleh temuan yang tidak konsisten dan kurangnya data berkualitas tinggi."
Demikian disampaikan penulis utama studi, Dr Paddy Dempsey.
"Studi ini menggunakan data genetik untuk memberikan bukti yang lebih kuat tentang hubungan sebab akibat antara kecepatan berjalan yang lebih cepat dan ukuran telomer yang lebih panjang."
Baca Juga:
Milenial Wajib Tahu! Ini 5 Pemicu Kencing Manis yang Jarang Disadari
"Data dari perangkat pelacak aktivitas yang dipakai di pergelangan tangan untuk mengukur rutinitas aktivitas fisik juga mendukung pentingnya intensitas aktivitas terhadap panjang telomer." Menurut Dempsey,
intensitas aktivitas memainkan peran penting dalam mencegah peningkatan risiko terkena penyakit kronis atau efek penuaan yang merugikan.
"Selain meningkatkan kecepatan berjalan kaki, seseorang yang mampu bisa bertujuan untuk meningkatkan jumlah langkah dalam waktu tertentu (misalnya berjalan lebih cepat ke halte bus)," imbuh dia. "Namun, hal ini membutuhkan penyelidikan lebih lanjut.