Dampak kolaborasi ini juga membuahkan peningkatan kinerja dan produktivitas di sejumlah pelabuhan.
Peningkatan produktivitas bongkar muat diukur dengan parameter boks per kapal per jam (BSH) dan pengurangan port stay atau waktu sandar kapal di pelabuhan yang diukur dengan jumlah hari.
Baca Juga:
Presiden Prabowo Sebut Program MBG Jadi Sorotan Dunia, Banyak Negara Ingin Tiru
Peningkatan kinerja terbaik ada di Terminal Peti Kemas Pelabuhan Ambon. Peningkatan jumlah bongkar muat naik hampir tiga kali lipat, dari 12 boks per kapal per jam menjadi 35 boks.
Transformasi lain yang terasa sejak merger Pelindo ini adalah waktu singgah kapal di pelabuhan (port stay) yang semakin pendek.
Sebelum merger port stay di TPK Makassar mencapai rata-rata 30 jam. Namun saat ini hanya tinggal 24 jam dan akan terus dipersingkat.
Baca Juga:
Festival Holi di Bali, Warna-warni Kegembiraan yang Pererat Hubungan Indonesia-India
Port stay di TPK Benawan jga membaik dari rata-rata 36 jam kini hanya menjadi rata-rata 20 jam. Demikian juga dengan TPK Ambon yang mencatat waktu singgah kapal dari 72 jam menjadi 36 jam. Hal serupa akan dilakukan di semua wilayah kerja.
Hasilnya, kinerja audited Pelindo tahun 2021 pasca merger meningkat, Perseroan berhasil catatkan laba sebesar Rp3,2 triliun, naik dibandingkan perolehan tahun 2020, yaitu Rp3 triliun.
Berguru kepalang ajar seperti bunga kembang tak jadi. Itulah peribahasa yang cocok menggambarkan Pelindo setelah 1 tahun merger. [jat]