"Kekhawatiran saya saat ini sebenarnya adalah salah satu krisis pangan secara global," kata Will kepada Reuters.
Maximo Torero, kepala ekonom untuk Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, mengutarakan hal yang sama.
Baca Juga:
Sekda Sumsel Terima Audiensi Direktur Bank Sampah Indonesia Bahas Program Palembang
"Krisis pupuk dalam beberapa hal lebih mengkhawatirkan karena dapat menghambat produksi pangan di seluruh dunia yang dapat membantu mengatasi kekurangan tersebut," kata Torero.
"Jika kita tidak menyelesaikan masalah pupuk, dan perdagangan pupuk tidak berlanjut, maka kita akan menghadapi masalah pasokan (makanan) yang sangat serius tahun depan," tambahnya.
Waspada Pasokan dari Rusia Bakal Langka
Baca Juga:
Polres Donggala Gagalkan Pengiriman 2.500 Kg Pupuk Bersubsidi dari Mamuju, Sulbar
Dampak pupuk yang mahal akan terasa hingga Indonesia. Pasalnya Indonesia adalah importir bersih pupuk dunia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2021 impor pupuk Indonesia mencapai 8,1 juta ton dengan nilai ekspor sebesar US$ 834,76 juta atau setara Rp 11,94 triliun.
Tak hanya soal harga, Indonesia bisa saja kehilangan pasokan pupuk. Pasalnya Indonesia mengimpor 210,7 juta ton atau setara 11,9% total ekspor pupuk Indonesia. Menempatkan Rusia menjadi negara pemasok terbesar nomor 4 setelah China, Kanada, dan Mesir, berdasarkan data BPS tahun 2020.
Beban impor bisa meningkat seiring dengan harga pupuk yang melonjak. Ujungnya akan sampai ke petani dan mengganggu hasil panen. Hal ini sudah terjadi di beberapa negara.