“Sebelumnya, kami berterima kasih karena Bali mengalami peningkatan setelah dibantu kedatangan wisatawan domestik, dan memberikan kontribusi percepatan pemulihan di Bali," ujar Rai.
Sementara itu, Winastra dari Asita menyatakan bahwa pembukaan awal ini dapat mendorong aturan-aturan bagi negara lainnya.
Baca Juga:
Buntut Ancaman Tarif AS, Kuba Menangis Kehabisan Bahan Bakar Pesawat
"Pembukaan ini memberikan optimisme bagi pelaku pariwisata Bali. Kalau di Asita, kami mempunyai target market yang musimnya berbeda-beda. Misalnya Eropa, mereka biasanya baru mulai bepergian di musim panas, artinya Juni, Juli, Agustus, Desember," tutur dia
Ia berharap pada puncak liburan musim panas tersebut, regulasi karantina dan sebagainya sudah tidak ada.
Tak hanya itu, sebagai pihak pelaku pariwisata yang mendukung pergerakan roda ekonomi kembali berjalan, ada komitmen penuh untuk taat peraturan.
Baca Juga:
Tahun 2027, Semua Penerbangan Internasional ke Indonesia Wajib Pakai Avtur Ramah Lingkungan
"Kami dari pelaku pariwisata siap dan berkomitmen. We will take part in responsibility, in case ada cluster baru. Kalau ada pelanggaran misalnya, ya kami siap untuk di-lockdown hotelnya. Ini komitmen dan integritas kami," tukas Rai. . [jat]