Sementara itu, Chief Executive Officer, Krakatau International Port (KIP), Akbar Djohan menyampaikan rantai pasok logistik harus dipahami sebagai satu ekosistem yang tidak bisa dipisahkan.
Harus terintegrasi, kapasitasnya besar, fasilitas mumpuni, contohnya kapasitas KIP yang lebih baik dari Pelabuhan Tanjung Priok.
Baca Juga:
Multigrade Berhasil, Pengalaman Probolinggo Diapresiasi
Karena kedalaman pelabuhan yakni -21 meter Low Water Spring (LWS) atau lebih dalam dari Priok yang hanya -14 meter LWS.
"KIP berlokasi di Banten dekat dengan jakarta khususnya Pelabuhan Tanjung Priok, sehingga dengan berbagai kapasitas dan fasilitas yang ada di KIP bisa mendorong bukan hanya untuk ekonomi di Banten tapi mendukung ekonomi nasional dengan menopang Priok sebagai pusaran perdagangan di Indonesia," ungkap Akbar.
KIP sebagai pelabuhan curah terbesar di Indonesia menyadari bahwa di Banten sendiri memiliki 70 pelabuhan, hanya saja 4 BUP (Merak, Pelindo, KIP, Ciwanda) dan masih banyak yg bisa dikembangkan.
Baca Juga:
5 Pekerjaan Terbaik dan Bergaji Besar di Industri Maritim yang Jarang Diketahui
Sehingga potensi ekonomi maritim ini sangat besar dan harus dijawab dengan berbagai inovasi.
Akbar menegaskan bahwa KIP saat ini sangat siap untuk menjadi pelabuhan hub energi di banten dan sekitarnya, karena dibanten yang memiliki 7 PLTU dan beberapa proyek strategi nasional bidang energi, sehingga mampu bekerja sama dengan PLN kedepannya untuk subsidi kebutuhan Batu Bara di PLTU-PLTU yang ada di Banten dan sekitarnya.
"Tentunya membangun ekonomi maritim ini tidak bisa sendiri, harus kolaborasi dengan berbagai pihak baik pemerintah, BUMN dan swasta, guna mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi nasional dan mengantisipasi resesi ekonomi global di tahun depan," tutup Akbar. [jat]