"Mereka tidak paham bahwa hasil perikanan kita seharusnya melimpah di Indonesia, karena memiliki jumlah spesies ikan terbanyak nomor 2 dunia serta pusat terumbu karang terbesar di dunia yang merupakan rumah ikan yang ada di Lautan Indonesia dan mempunyai luas 3.273.810 kilometer persegi yaitu tiga kali lipat dari luas daratan Indonesia," ucapnya.
Sebagai negara kelautan (maritim), Indonesia hanya menghasilkan produk perikanan sebesar 6 juta ton setiap tahunnya. Ironisnya angka tersebut masih jauh lebih rendah dari produksi perikanan China yang merupakan negara kontinental atau daratan dengan produksi sebesar 55,8 juta ton.
Baca Juga:
Peringatan Hari Maritim Nasional ke-58, Jokowi: Cara Kita Melihat Laut Harus Berubah
Pemerintah harusnya sadar bahwa ikan hasil tengkapan nelayan dapat mewujudkan generasi unggulan yang cerdas, kuat, dan mempunyai produktivitas tinggi dan mewujudkan kemajuan serta kesejahteraan Indonesia.
"Harusnya produk ikan di Indonesia berlimpah dan berharga murah. Bila ini terjadi maka masyarakat Indonesia dari semua golongan bisa mengonsumsi ikan dengan maksimal. Saat ini masyarakat Indonesia masih kesulitan mengonsumsi ikan karena tidak mampu membelinya," kata dia.
Pria yang akrab disapa BHS ini mendukung penuh upaya-upaya untuk meningkatkan kesejahteraan para nelayan.
Baca Juga:
Beri Sambutan Acara Puncak Hari Maritim Nasional ke-58, Presiden Jokowi: Cara Kita Melihat Laut Harus Berubah
"Terima kasih kepada para nelayan pejuang devisa ekonomi dan gizi kesehatan untuk masyarakat Indonesia, yang telah menetapkan saya sebagai nominasi Tokoh Maritim Nasional bersama 6 tokoh maritim lainnya. Semoga maritim kita jaya dan para nelayan bisa lebih sejahtera. Saya akan selalu mendukung kesejahteraan nelayan dan rakyat Indonesia," tutupnya. [jat]