“Kita kaya dengan terumbu karang, padang lamun, hingga mangrove, serta keanekaragaman hayati di laut yang berkontribusi bagi pertumbuhan blue economy,” papar Luhut dalam kuliah umum yang dibuka oleh Rektor Universitas Hasanuddin Jamaluddin Jompa.
Berkaitan dengan blue economy salah satu yang dibahas oleh Menko Luhut adalah mengenai potensi nilai karbon yang besar dari mangrove, lahan gambut, dan juga hutan hujan tropis.
Baca Juga:
Resmikan Bandara Dhoho Kediri, Luhut: Bandara Pertama yang Dibangun Tanpa APBN
Memiliki potensi nilai karbon sebesar 33 gigaton dari mangrove, 20,2 gigaton dari lahan gambut, dan 25,18 gigaton dari hutan hujan tropis menjadikan Indonesia sebagai negara yang mampu mendukung tercapainya net zero emission pada 2060 atau lebih cepat.
Selain potensi nilai ekonomi yang besar, Menko Luhut juga memaparkan mengenai potensi energi terbarukan yang besar dan dapat dimanfaatkan.
“Kita punya energi baru dan terbarukan seperti dari kelautan, geotermal, bioenergi, angin, matahari, air. Dari total yang ada sebanyak 437,4 giga watt, kita baru hanya pakai 10,4 giga watt saja atau 2,5%. Bayangkan kalau kita bisa memaksimalkan ini,” kata Menko Luhut.
Baca Juga:
Luhut Pandjaitan: Pabrik di Jakarta Dipasang Sensor Deteksi Gas Kurangi Polusi Udara
Dengan banyaknya potensi ini, Menko Luhut di depan seluruh hadirin undangan Unhas mengatakan bahwa ada tiga hal penting dalam pemanfaatan energi baru dan terbarukan secara maksimal, yaitu hilirisasi industri, digitalisasi, dan pengembangan sumber daya manusia.
“Indonesia harus terus melakukan perbaikan dan hal ini hanya bisa dilakukan melalui hilirisasi industri dan peningkatan efisiensi melalui digitalisasi. Tidak hanya itu, sumber daya manusianya juga harus didukung. Dalam hal ini, saya minta Universitas Hasanuddin bisa berperan dalam pengembangan sumber daya manusia dan dalam risetnya,” papar Menko Luhut.
Pada kuliah umum ini, Menko Luhut juga meminta agar Unhas mampu membuka jurusan baru yang berhubungan dengan metalurgi. Jurusan ini diharapkan mampu mengakomodasi adanya kebutuhan sumber daya manusia untuk mempercepat berbagai macam target Indonesia sebagai negara maju sebelum 2045, dalam rangka menggerakkan hilirisasi industri di berbagai bidang, khususnya pertambangan.