WahanaNews - Otomotif | Dalam rangka mengejar pencapaian program Zero Emission atau energi bersih, Pemerintah tengah menggalakkan kendaraan listrik di tanah air. Bahkan, muncul wacana bahwa Pemerintah akan memberikan subsidi untuk konversi kendaraan listrik tersebut.
Subsidi itu tersebut diketahui ditujukan bagi pembelian motor listrik baru atau konversi motor bensin ke motor listrik. Namun, konversi menjadi prioritas utama.
Baca Juga:
Teknologi dan Harga Jadi Alasan Kendaraan Hybrid Tetap Mendominasi
"Biaya untuk konversi (motor listrik) itu kan Rp15 juta, yang paling mahal itu Rp7,5 juta baterainya. Jadi, bisa enggak nih baterainya dipikirkan untuk 'digendong' biar separuh harganya," ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif di kantornya pada akhir pekan lalu, dikutip Selasa (6/12/2022).
Rencananya, subsidi motor listrik diberikan mulai 2023. Targetnya adalah 1,2 juta unit hingga 2024.
Dalam kesempatan berbeda, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan menyebut besaran insentif yang direncanakan mencapai Rp6,5 juta per unit.
Baca Juga:
Hyundai Motor Catat Penjualan Turun 1,8 Persen pada 2024
Konversi motor bensin ke motor listrik sendiri sudah diizinkan dan diatur pemerintah melalui Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 65 Tahun 2020.
Pemerintah juga mengeluarkan Permenhub Nomor 15 Tahun 2022 perihal konversi mobil berbahan bakar minyak, baik itu bensin atau pun diesel, menjadi mobil listrik.
Tapi, hingga kini, diketahui bahwa pemerintah baru merilis sertifikasi untuk bengkel konversi motor listrik. Adapun sertifikasi bengkel konversi mobil listrik belum diterbitkan.
Head of Electrical Energy Conversion Research Laboratory Institut Teknologi Bandung (ITB), Agus Purwadi menilai bahwa konversi motor listrik memang lebih mudah aplikasi dan pelaksanaannya ketimbang mobil listrik.
Ia pun menganggap langkah ini menjadi salah satu solusi percepatan penambahan populasi kendaraan listrik di jalan, seperti yang diinginkan pemerintah.
“Ujungnya memang konversi akan menjadi alternatif percepatan, khususnya untuk UIO (Unit In Operation). Sepeda motor yang paling cepat. Kalau roda empat memang masih butuh pemahaman lebih advance (mendalam),” ucap dia dalam ‘Seminar Nasional: Strategi Transisi Pengembangan Teknologi Elektrifikasi dan Manajemen Unit In Operation Menuju Net Zero Emission di Indonesia’ yang diadakan secara daring (online) dan luring (offline) di Bandung, Jawa Barat.
Pemerintah memiliki target besar membangun ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Presiden Joko Widodo bahkan percaya negara-negara lain bisa bergantung pada Tanah Air di era mobil serta motor listrik.[mga]