Krtnews.id | PT PLN (Persero) mengadakan touring mobil listrik dari Jakarta hingga Bali untuk mengkampanyekan kepada masyarakat penggunaan mobil listrik lebih nyaman, aman dan hemat.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengatakan pelaksanaan touring mobil listrik ini merupakan bagian dari gelaran PLN E-Mobility Day yang acara puncaknya digelar di Bali pada 24 Juli 2022.
Baca Juga:
ALPERKLINAS Apresiasi Komitmen Pemerintah Dukung Energi Terbarukan dengan Beri Waktu 30 Tahun Perjanjian Jual Beli Listrik EBT ke PLN
Touring yang melibatkan Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI) ini akan menjadi momentum pembuka yang sangat penting. PLN bersama KOLEKSI akan memberikan pesan kepada masyarakat dan dunia bahwa Indonesia sedang menuju perubahan besar.
"Ini bukan sekedar perjalanan dari Jakarta ke Bali. Tetapi ini adalah simbol journey kita, yaitu dari masa lalu menuju masa depan. Kita adalah pelaku sejarah, di mana era energi fosil yang mahal, impor, dan beremisi tinggi, akan menuju era energi listrik yang murah, berbasis domestik, dan ramah lingkungan," kata Darmawan, dalam keterangan tertulis, 21 Juli 2022.
Sebagai pengguna mobil listrik, Darmawan telah membuktikan hematnya penggunaan mobil listrik ketimbang mobil berbahan bakar minyak. Secara energi, kata Darmawan, 1 liter bensin bisa dipakai berjalan sejauh 7-10 kilometer (km). Jika jarak 10 km, mobil BBM butuh 1 liter, sedangkan mobil listrik butuh 1,5 kilowatthour (kWh).
Baca Juga:
Tarif Listrik April 2025 Tidak Naik, Ini Alasannya!
"Dari sisi harga, ini sudah beda jauh. Satu liter bensin Rp12 ribu, sementara 1 kWh ini harga di Charge-in sekitar Rp2.500. Jadi kalau 1,5 kWh adalah Rp 3.750. Artinya, dari sisi harga, mobil listrik kisarannya hanya butuh tidak lebih dari sepertiganya saja," katanya.
Sementara itu dari sisi emisi, lanjut Darmawan, kendaraan listrik lebih rendah dari kendaraan BBM. Ia memaparkan, satu liter BBM menghasilkan emisi karbonnya 2,4 kilogram (kg) CO2. Sedangkan 1 kWh listrik, emisinya hanya 0,85 kg CO2. Artinya kalau 1,5 kWh, emisinya sekitar 1,3 kg CO2.
"Artinya, dari emisinya, kendaraan listrik hanya setengahnya dari kendaraan BBM. Ini adalah hari ini. Ke depan, dengan berjalannya transisi energi di Indonesia, pembangkit-pembangkit listrik dari energi baru terbarukan (EBT), maka emisi karbon akan menjadi nol," papar Darmawan.