"Laporan terakhir yang kami terima, hingga kini pusat kota dan jalan raya masih terendam air hingga setinggi paha orang dewasa," imbuhnya.
Rupang kembali menegaskan daya rusak banjir kali ini di Kutai Timur jauh lebih besar dan paling parah sepanjang 20 tahun terakhir.
Baca Juga:
Tanggapi Aspirasi FWR DAS Rawalumbu, Komisi II Bakal Lakukan Hal Ini
Hujan yang mengguyur selama dua hari menunjukkan potret rapuhnya dua kecamatan Sangatta Utara dan Sangatta Selatan dari bahaya banjir.
"Rapuhnya kawasan ini bukan tanpa sebab. Banjir yang saat ini berlangsung disebabkan oleh pembukaan hutan dan berganti menjadi tambang skala besar di wilayah hulu sungai Sangatta," tegasnya.
Dia menambahkan, PT KPC merupakan perusahaan batu bara raksasa. Memperoleh kontrak karya dari pemerintah sejak 1982 silam hingga kini. Dengan kata lain, sudah 39 tahun KPC mengeruk bumi Kutai Timur.
Baca Juga:
BPBD Sulawesi Tengah Laporkan 875 KK Terdampak Banjir di Morowali Utara
Luasan konsesi yang dimiliki ketika itu ialah 90.938 hektare dan terbaru pada 2022, luasan konsesi korporasi ini menciut menjadi 61.543 ha.
"Setiap tahunnya KPC memproduksi batu bara sebanyak 60 juta metrik ton dan 75 persen hasil produksinya di ekspor ke luar negeri," tegasnya lagi.
Dikonfirmasi terpisah, Manager External Relation PT KPC, Yordhen Ampung menuturkan banjir yang terjadi di sejumlah kawasan Sangatta akibat curah hujan sangat tinggi.