Akhlak.id | Sebagai orang tua sudah seharusnya mendidik anak-anaknya.
Kita tahu, anak adalah titipan dari Tuhan.
Baca Juga:
80 Persen Orang Tua Tak Tahu Aktivitas Digital Anak, Menkomdigi Ingatkan Bahaya Ruang Maya
Namun, kadang kala ada orang tua yang tidak sabar dalam mendidik anaknya.
Sehingga, ada perlakuan orang tua yang tidak pantas dilakukan kepada anaknya.
Tanpa disadari hal tersebut bisa menyakiti anaknya bahkan bisa menjadi dosa.
Baca Juga:
IDAI Ungkap Jenis Alergen Makanan yang Rentan Picu Reaksi Berat pada Anak
Dilansir dari kanal YouTube NS BOR CHANNEL ‘6 Dosa Besar Orang Tua Terhadap Anak Yang Paling Dibenci Allah’ yang diunggah pada 20 Desember 2021, inilah dosa orang tua kepada anak tersebut.
1. Bersikap kasar terhadap anak
Sebagai orang tua, kita sangat tidak dianjurkan untuk memaki anak karena perilakunya yang tidak kita sukai.
Apabila kita menemukan sikap anak yang tidak kita suka hendaknya nasihatilah dengan lembut dan tetap dengan penuh kasih sayang.
Rasulullah bersabda “Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama ayah kalian, maka perbaikilah nama kalian” (HR. Abu Daud).
2. Pilih kasih kepada anak
Orang tua yang memiliki anak lebih dari satu sangat tidak dianjurkan pilih kasih.
Apalagi, memberi lebih kepada anak kesayangan dibanding dengan anaknya yang lain.
Sehingga, yang terjadi adalah ada anak lain yang merasa terabaikan.
Sikap pilih kasih orang tua kepada anak bisa memicu putusnya tali silaturahmi antar sesama anak
Bahkan, bisa menyebabkan kecemburuan sosial diantara anak-anak yang lain.
3. Membandingkan anak
Kebiasaan orang tua yang membanding-bandingkan anak akan menimbulkan perasaan rendah diri pada anak yang lain.
Apalagi jika hal yang dibandingkan adalah sesuatu yang di luar kemampuan anak atau justru yang menjadi kelemahan dari si anak.
Hal ini akan mempengaruhi pikiran dan perasaan dari anak ke orang tua.
4. Mengekang kebebasan anak
Membiarkan anak bermain adalah salah satu hal yang sangat penting dalam masa pengenalan lingkungan dan menemukan jati dirinya.
Yang terpenting adalah tetap harus diberikan arahan. Yakni, mana yang baik dan mana yang kurang baik.
Namun, tak jarang kita sebagai orang tua justru malah mengekang kebebasan anak dalam bergaul dan bermain dengan teman yang diinginkan.
Kita semua tahu, tujuan mengekang atau tidak memberikan kebebasan bermain supaya anak tidak terjerumus ke pergaulan yang salah.
Namun, sebenarnya pergaulan akan menjadikan si anak mampu berpikir dan mendapatkan pelajaran penting perihal perbedaan.
Sehingga, anak mampu membedakan mana yang harus ia teruskan berteman dan mana yang harus dijauhi.
Makanya, hindari kekhawatiran yang berlebih terhadap anak.
Namun, yang terpenting adalah keterbukaan anak dengan orang tua harus tetap terjaga.
5. Tidak memberikan pendidikan kepada anak
Pendidikan dalam hal ini bukanlah sekedar pendidikan sekolah saja.
Namun, menyangkut berbagai macam aspek kehidupan.
Yakni, pendidikan agama, sosial, budaya dan lain sebagainya.
Setiap orang tua wajib memberikan pembekalan keterampilan kepada setiap anak-anaknya.
Sebab, keterampilan tersebut bisa mengantarkan anak untuk menemukan jati diri perihal menemukan kehidupan yang bahagia di dunia maupun akhirat.
Apabila kita mengabaikan pendidikan anak, maka bisa dikatakan anak tersebut layaknya anak yatim.
Padahal masih mempunyai kedua orangtua.
6. Mendoakan keburukan kepada anak
Berdoa bukan hanya di setiap selesai mengerjakan ibadah saja.
Setiap ucapan yang keluar dari mulut orang tua semuanya bisa dikatakan sebagai doa.
Terkadang, orangtua tidak sadar apabila mendapati anak yang tidak mematuhi perintah.
Itu kadang membuat orang tua langsung berkata buruk kepada anak.
Abu Hurairah berkata bahwa pernah bersabda,
“Ada tiga doa yang dikabulkan, doa orang yang teraniaya, doa musafir dan doa keburukan orang tua atas anaknya” (HR. Tirmidzi).
Lantas, apa yang harus kita lakukan supaya tidak terbawa emosi saat menasihati anak.
Hal yang bisa kita lakukan adalah memperbanyak istighfar terlebih dahulu.
Lalu tanyakan alasan kepada si anak perihal apa yang menurut kita atau orang tua menjadi kesalahan dari si anak.
Kemudian, berikan perumpamaan dan saran.
Lalu, kembalikan kepada si anak supaya menentukan pilihan
Maka, si anak tidak merasa tersakiti hatinya.
Sehingga, anak mampu berpikir bahwasannya hal yang dikerjakan tersebut kuranglah baik dan harus ditinggalkan.
Demikian itulah dosa orang tua kepada anak yang secara sadar atau tidak sadar telah dilakukan. [jat]