"Walau belum 100 persen, masih kurang 20-an persen lagi," katanya kepada KONTAN, Jumat (27/5).
Abdul memerinci, saat sebelum pandemi Covid-19, jumlah wisatawan yang melancong ke Desa Sekapuk bisa mencapai 1.500 pengunjung per momen liburan seperti Lebaran.
Baca Juga:
Libur Lebaran di Pulau Dewata? Kunjungi 5 Destinasi Wisata Ini!
Dengan angka kunjungan pelancong tersebut, pendapatan yang berhasil Desa Sekapuk raup mencapai Rp 200 juta hingga Rp 300 juta per bulan.
Sementara selama pandemi virus korona, kunjungan langsung anjlok hanya 200-300 orang saja, dengan pendapatan hanya Rp 75 juta sampai Rp 100 juta per bulan.
Tapi kini, pendapatan Desa Sekapuk sudah mencapai Rp 200 juta per bulan.
Baca Juga:
Keindahan Alam dan Tradisi Sakral, Bali Tetap Jadi Favorit Wisatawan Dunia 2025
Desa Sekapuk memiliki dua destinasi wisata. Pertama, Selo Tirto Giri alias Setigi yang memadukan keberadaan candi dan wisata alam. Kedua, Agrowisata Kebun Pak Inggih (KPI), yang menawarkan panorama pertanian di tengah Kota Gresik.
Tarif masuknya, Rp 20.000 per orang. Selain itu, Desa Sekapuk punya 17 cottages untuk menginap.
Meski begitu, Desa Sekapuh tetap perlu promosi. Pengelola bakal melakukan promosi di media sosial, dan berharap ada bantuan petunjuk jalan ke desa ini.[zbr]