Kain Tenon Khas Alor
Kain Sarung Tenunan Alor adalah warisan budaya yang masih dipertahankan di desa wisata ini. Kerajinan ini telah menjadi daya tarik wisata dan meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.
Baca Juga:
Sawah Pelangi Namang Ditata PLN Peduli, ALPERKLINAS: Listrik Jadi Penggerak Ekonomi Rakyat
Kain tenun Alor sejak dulu dikenal dengan keindahan motifnya. Aneka warna kain berasal dari tumbuhan.
Selain menenun, perajin kain tenun di Alor juga pandai memintal benang. Dari kapas sampai jadi kain, prosesi ini membutuhkan waktu hingga lima bulan lamanya.
Pewarna Alami
Baca Juga:
Desa Wisata Jadi Jantung Ekonomi Otorita IKN, MARTABAT Prabowo-Gibran Dorong Sosialisasi Masif ke Masyarakat
Proses diawali dengan membersihkan kapas dengan alat yang disebut beneha kapo klukung. Kemudian, kapas dipintal menjadi benang, lalu diwarnai sesuai selera, dengan warna dari tumbuhan.
Warna hijau dari daun pepaya, kuning dari kunyit, dan hitam dari daun nila. Proses pewarnaan pun memakai cara tradisional, seperti digoreng di atas kuali atau penggorengan.
Kain yang telah diwarnai ini lalu ditenun jadi selendang atau sarung dengan motif khas Pulau Alor, antara lain rumah adat dan moko. Proses menenun memakan waktu 1--2 pekan untuk selembar kain sarung maupun selendang.